Skip to toolbar

Etika Kepemimpinan Jawa

Kehidupan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kondisi geografis lingkungan di mana ia tinggal sebagai bentuk respon dan usaha untuk bertahan hidup. Hubungan antara manusia dengan lingkungan tersebut membentuk cara pandang yang khas terhadap segala bentuk kebudayaan. Cara pandang tersebut mengendap dan berpola dalam dasar kebudayan yang diwujudkannya.

Manusia Jawa hidup dalam lingkungan dengan kondisi alam dataran rendah yang subur. Lingkungan tersebut menimbulkan respon kebudayaan berupa usaha pengolahan tanah dengan bercocok tanam padi lahan basah atau sawah. Pola pengolahan tanah dengan bersawah inilah yang berlangsung dalam waktu yang lama akhirnya membentuk pola kebudayaan tersendiri yaitu pola kebudayaan pesawah termasuk diantaranya adalah pembentukan konsep ruang atau lingkungannya.

Sistem penanaman padi basah membutuhkan air dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu lahan persawahan tersebar diantara aliran-aliran sungai. Hunian atau pemukiman menyebar di kanan dan kiri sungai. Jika ditarik garis berlawanan maka terdapat titik simpul pemukiman di arah kanan-kiri sungai dan hulu-hilir sungai dengan pemukiman pusat sebagai aksis sumbunya. Pola inilah yang disebut pola lima orang pesawahan. Dalam tradisi Jawa pembagian lima ini disebut mancapat kalimo pancer atau papat kiblat limo pancer (pengaruh Islam). Sedangkan mancapat merupakan konsep mandala pada zaman Hindu Jawa. Namun konsep pembagian lima ini diduga telah ada sebelum agama Hindu dan Islam masuk pulau Jawa

Selain pola etika yang berdasarkan pada konsep Hindu “mandala” di atas terdapat konsep etika yang berkembang dengan delapan arah mata angin yang dikenal dengan astagina. Delapan arah tersebut masing-masing dijaga seorang Dewa. Dewa-dewa tersebut adalah Agni (penjaga arah tenggara), Yama (penjaga arah selatan), Nirrti (penjaga arah barat daya), Varuna (penjaga arah barat), Vayu (penjaga arah barat laut), Kuvera (penjaga arah utara), Isana (penjaga arah timur laut), dan Indra (penjaga arah timur). Dewa Indra dianggap sebagai pemimpin dari dewa-dewa lainnya.Empat dewa yang berada pada empat arah utama (timur, selatan, barat, utara) disebut Lokapala, sedangkan empat dewa yang berada di empat arah tengahnya ( tenggara, barat daya, barat laut, timur laut) disebut Dikpala.

Konsep ini berkembang menjadi piwulang atau etika kepemimpinan di masa Mataram Islam yang disebut dengan Astabrata atau Delapan Kewajiban Negarawan. Delapan kewajiban ini bersifat akumulatif dan berjalan secara sinergis (berlaku seluruhnya secara bersama-sama).

Dalam buku Kepemimpinan Jawa, Kepemimpinan Halus, Kepemimpinan Otoriter, Hans Antlov sang penulis memberikan dimensi yang lain dari kepemimpinan Jawa ini (Insya Allah akan diberikan di posting berikutnya)